You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Babadan Lor

Kec. Balerejo, Kab. Madiun, Prov. Jawa Timur

Edisi Ramadan: Niat Puasa Sebulan Penuh dalam Islam: Bagaimana yang Benar?


Edisi Ramadan: Niat Puasa Sebulan Penuh dalam Islam: Bagaimana yang Benar?

Dalam ajaran Islam, niat merupakan syarat sah setiap ibadah, termasuk puasa Ramadan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad dan menjadi dasar bahwa puasa tidak sah tanpa niat.

Apa Itu Niat?

Secara bahasa, niat berarti maksud atau tekad dalam hati.
Secara istilah fikih, niat adalah keinginan dalam hati untuk melakukan ibadah karena Allah SWT.

Penting dipahami bahwa:

  • Niat tempatnya di hati, bukan di lisan.
  • Melafalkan niat bukan kewajiban, tetapi boleh sebagai bentuk membantu hati menghadirkan kesadaran.

Apakah Boleh Niat Puasa Sekaligus untuk Sebulan?

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama:

1. Pendapat Mayoritas Ulama (Hanafi, Syafi’i, Hambali)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa:

  • Niat harus dilakukan setiap malam sebelum puasa esok harinya.
  • Dasarnya adalah hadis:

“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya)

Karena puasa Ramadan dilakukan setiap hari secara terpisah, maka niatnya pun diperbarui setiap malam.

2. Pendapat Mazhab Maliki

Mazhab Maliki membolehkan:

  • Satu niat di awal Ramadan untuk satu bulan penuh, selama tidak terputus oleh hal yang membatalkan rangkaian puasa (misalnya sakit atau safar).

Namun, meskipun mengikuti pendapat ini, tetap dianjurkan memperbarui niat setiap malam untuk kehati-hatian.

Bagaimana Praktik yang Paling Aman?

Di Indonesia, mayoritas mengikuti mazhab Syafi’i. Maka praktik yang paling aman adalah:

  • Berniat setiap malam setelah Maghrib hingga sebelum Subuh.
  • Tidak harus dilafalkan, cukup di dalam hati.

Contoh lafaz niat (bila ingin melafalkan):

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.”

Artinya:

“Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”

Waktu Niat Puasa Ramadan

Waktu niat adalah:

  • Sejak terbenam matahari (Maghrib) hingga sebelum terbit fajar (Subuh).

Jika seseorang lupa berniat di malam hari menurut mazhab Syafi’i, maka puasanya tidak sah dan wajib diganti (qadha).

Kesimpulan

  1. Niat adalah syarat sah puasa dan tempatnya di hati.
  2. Mayoritas ulama mewajibkan niat setiap malam.
  3. Mazhab Maliki membolehkan niat satu bulan penuh di awal Ramadan.
  4. Untuk kehati-hatian, sebaiknya memperbarui niat setiap malam.

Dengan memahami persoalan niat secara benar sesuai tuntunan Muhammad, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadan dengan tenang, sah, dan sesuai syariat.

Bagikan artikel ini:
Komentar
<

APBDes 2025 Pelaksanaan

Rp2,647,561,561 Rp2,843,280,697
93.12%
Rp2,424,600,575 Rp2,645,092,932
91.66%
Rp232,012,235 Rp232,012,235
100%

APBDes 2025 Pendapatan

Rp10,000,000 Rp10,000,000
100%
Rp377,674,000 Rp377,674,000
100%
Rp1,075,275,000 Rp1,075,275,000
100%
Rp71,816,897 Rp71,816,897
100%
Rp793,316,000 Rp793,316,000
100%
Rp300,000,000 Rp500,000,000
60%
Rp198,800 Rp198,800
100%
Rp4,280,864 Rp0
100%
Rp15,000,000 Rp15,000,000
100%

APBDes 2025 Pembelanjaan

Rp1,344,395,075 Rp1,352,650,800
99.39%
Rp748,975,500 Rp957,108,000
78.25%
Rp179,902,500 Rp180,437,500
99.7%
Rp44,927,500 Rp45,517,500
98.7%
Rp106,400,000 Rp109,379,132
97.28%